Apa yang dapat Google informasikan tentang pikiran seseorang

thoughts

Google dapat digunakan untuk banyak hal tak terbatas hanya mencari arah, mendefinisikan kata-kata, belanja dan memperbaiki mobil Anda. Menurut beberapa peneliti, google dapat digunakan untuk membaca pikiran orang.

Ahli ekonom dan mantan ilmuwan data Google, Seth Stephens-Davidowitz, menyebut Google sebagai “kotak pengakuan” yang dapat mengukur sentimen publik pada pandangan kontroversial yang tidak bisa diukur dengan jajak pendapat dan survei. Setelah peristiwa seperti serangan di San Bernardino dan Paris, dapat digunakan untuk mengukur peningkatan sentiment masyarakat terkait dengan Islamophobia.

“Kadang-kadang orang mengetik hanya pikiran acak yang mereka miliki ke Google,” kata Stephens-Davidowitz. “Pencarian tersebut cenderung seperti pengakuan. Mereka mengakui hal-hal yang mereka mungkin tidak mau akui  atau mungkin tidak memberitahu sebuah survei. Sehingga pencarian di google menunjukkan perspektif yang berbeda dan seringkali sayangnya, perspektif yang lebih gelap dari jiwa manusia. ”

Stephens-Davidowitz dan Evan Soltas telah meneliti kemampuan data agregat anonim yang dikumpulkan dari Google untuk memprediksi hal-hal seperti kebencian terhadap Muslim.

“Ketika orang-orang ketik pencarian sangat mengganggu seperti ‘membunuh Muslim’ atau ‘Aku benci Muslim,’ kebencian terhadap Muslim yang lebih tinggi. Ada hubungan yang jelas antara minggu ketika pencarian mengenai ini lebih tinggi – akan ada kejahatan kebencian lebih banyak darianti-Muslim, “kata Stephens-Davidowitz.

Penelitian mereka dalam beberapa pekan terakhir telah menunjukkan tren tidak baik. Pencarian internet Anti-Muslim berada pada level tidak terlihat sejak tahun 2001.

“Ini berarti kita memprediksi bahwa kejahatan kebencian anti-Muslim berada pada tingkat yang tidak terlihat sejak 11 September sampai sekarang, karena ini pencarian buruk tentang Muslim telah meningkat hingga baru-baru ini,” kata Stephens-Davidowitz.

Soltas dan Stephens-Davidowitz dapat menguji hipotesis mereka baru-baru ini dalam sebuah pidato yang diberikan oleh Presiden Barack Obama.

“Pidato itu sangat berpengaruh. Beliau berbicara tentang pentingnya untuk tidak menghakimi orang berdasarkan agama mereka, “kata Stephens-Davidowitz. “Kami menjadi sangat bersemangat, seperti ‘Oh mari kita lihat bagaimana penelusuran yang telah merespons kata-kata Presiden Barack Obama yang bermaksud baik tersebut.” Dan hasil temuan kami mengecewakan karena pidato tersebut tampaknya hanya memprovokasi massa yang marah atau memprovokasi intoleransi. Hasil pencarian kata ‘membunuh Muslim’ meningkat tiga kali lipat … jadi, jika ada pidato semacam pidato Obama, rata-rata, menjadi boomerang bagi masalah Islamophobia.”

Kemudian dalam pidatonya, bagaimanapun juga, Obama berbicara tentang Muslim Amerika sebagai pahlawan olahraga dan orang-orang yang bersedia mati untuk Amerika Serikat.

“Setelah baris itu, untuk pertama kalinya dalam satu tahun, pencarian teratas yang terkait dengan Muslim bukan teroris, ekstrimis atau pengungsi tetapi atlet,” kata Stephens-Davidowitz. “Jadi pidato tersebut memiliki efek yang lebih positif.”

Soltas dan Stephens-Davidowitz telah meneliti teori mereka selama sekitar tiga tahun, dan berencana untuk menerbitkan temuan mereka. Stephens-Davidowitz juga menulis buku.

“Ini seperti pengakuan dan orang mengatakan hal-hal yang saya tidak berpikir akan banyak orang yang memberitahunya dalam jajak pendapat dan survei,” kata Stephens-Davidowitz. “Ketika Anda melihat secara anonim, secara agregat, Anda benar-benar mendapatkan tampilan yang benar-benar belum pernah terjadi sebelumnya.”